
MATARAM – Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Gde Pudja Mataram turut berkontribusi dalam penguatan literasi kerukunan antarumat beragama melalui kegiatan Pendalaman Literasi Kerukunan Perspektif Teks Kitab Agama-Agama yang diselenggarakan oleh Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Nusa Tenggara Barat (NTB), Rabu (21/10/2026), di Kantor FKUB NTB. Kegiatan ini menjadi ruang dialog bagi perwakilan berbagai agama untuk membahas pandangan keagamaan mengenai salam lintas agama dan kehadiran dalam kegiatan sosial keagamaan.IAHN Gde Pudja Mataram mengutus tiga akademisi dalam kegiatan tersebut, yakni Prof. Dr. Drs. I Nyoman Murbawidana, M.Ag., Prof. Dr. Drs. I Wayan Sumertha, M.Ag., dan Dr. I Made Agus Yudhiarsana, S.Ag., M.Ag. Kehadiran delegasi ini merupakan bagian dari keterlibatan perguruan tinggi keagamaan Hindu dalam memperkuat dialog lintas iman dan membangun pemahaman mengenai pentingnya hidup berdampingan secara damai di tengah keberagaman masyarakat.

Dalam diskusi tersebut, Prof. Dr. Drs. I Nyoman Murbawidana, M.Ag. berpendapat bahwa salam memiliki makna yang lebih dalam daripada sekadar ungkapan dalam komunikasi sehari-hari. Salam merupakan doa yang mengandung harapan akan kebaikan dan kebahagiaan, baik bagi orang yang menyampaikan maupun bagi orang yang menerimanya. Ia juga menekankan bahwa perbedaan agama tidak seharusnya menjadi penghalang untuk membangun kehidupan yang rukun dan harmonis.“Salam itu merupakan doa. Mudah-mudahan, baik yang mengucapkan maupun yang mendengarkan mendapatkan kebaikan dan kebahagiaan dari salam tersebut. Maka dari itu, walaupun kita berbeda, hiduplah rukun, harmonis, dan damai di dunia ini. Adanya perbedaan bukan menjadi batasan kita untuk bersatu,” ujar Prof. Murbawidana.Menurutnya, salam dapat menjadi salah satu bentuk komunikasi yang menumbuhkan ketulusan, penghormatan, dan hubungan baik antarmanusia.

Dalam kehidupan bermasyarakat, perbedaan keyakinan tidak semestinya menghalangi seseorang untuk saling menyapa, berkomunikasi, bekerja sama, serta menunjukkan kepedulian terhadap sesama. Dengan demikian, salam dapat dimaknai sebagai awal dari hubungan yang dilandasi niat baik dan semangat menjaga kerukunan.Ketua FKUB NTB, Dr. Buya Muhamad Subki Sasaki, M.H., turut berpendapat bahwa salam memiliki nilai penting dalam membangun hubungan antarmanusia. Ia memaknai salam sebagai bahasa cinta yang mencerminkan ketulusan, kepedulian, dan penghormatan kepada sesama. Salam bukan hanya ungkapan sapaan, melainkan juga sarana untuk menyampaikan niat baik dan membangun kedekatan di tengah masyarakat yang memiliki beragam latar belakang agama.“Salam merupakan bahasa cinta. Melalui salam, kita dapat menyampaikan kasih sayang, ketulusan, dan penghormatan kepada sesama. Perbedaan agama hendaknya tidak menghilangkan rasa kemanusiaan dan keinginan kita untuk menjaga hubungan baik dengan orang lain,” ujarnya.

Kegiatan ini menghadirkan lima narasumber yang mewakili agama Islam, Katolik, Kristen Protestan, Hindu, dan Buddha. Mereka adalah Prof. Dr. Abdul Fattah, M.Fil.I. dari agama Islam, Drs. Egenius Siba, M.M. dari agama Katolik, Pendeta Radius Aditiya Jonar, M.Th. dari agama Kristen Protestan, Drs. I Gede Renjana, MBA dari agama Hindu, serta Nasib, S.H., S.Pd., M.Pd. dari agama Buddha.Diskusi berlangsung dinamis dengan beragam pandangan dan argumentasi mengenai salam lintas agama serta kehadiran dalam kegiatan sosial keagamaan. Perbedaan pendapat yang muncul menjadi bagian dari proses pendalaman materi, khususnya dalam memahami persoalan berdasarkan perspektif dan ketentuan ajaran agama masing-masing.

Melalui pertukaran gagasan tersebut, peserta berupaya melihat persoalan secara lebih menyeluruh dan mencari titik temu yang dapat menjadi dasar pemahaman bersama.Pada akhirnya, diskusi menghasilkan benang merah mengenai pentingnya menghormati sesama, menjaga hubungan sosial, dan merawat kerukunan tanpa mengabaikan prinsip keyakinan masing-masing. Berdasarkan informasi yang dihimpun, para peserta sepakat dengan pokok-pokok pandangan yang disampaikan dalam forum tersebut. Kesepahaman ini menunjukkan bahwa perbedaan pandangan dapat dikelola melalui dialog terbuka, sikap saling mendengarkan, dan kemauan untuk memahami perspektif pihak lain.Sebanyak 30 peserta dari berbagai perwakilan agama mengikuti kegiatan yang diselenggarakan FKUB NTB tersebut. Forum ini menjadi ruang perjumpaan bagi tokoh agama dan unsur masyarakat untuk memperdalam pemahaman keagamaan serta membahas penerapannya dalam kehidupan sosial yang majemuk.

Bagi IAHN Gde Pudja Mataram, keterlibatan dalam kegiatan ini menjadi bagian dari kontribusi perguruan tinggi dalam mendukung dialog keagamaan dan penguatan kerukunan di tengah masyarakat. Kehadiran para akademisi dalam forum lintas agama membuka ruang pertukaran pemikiran yang dapat memperkaya pemahaman mengenai hubungan antara ajaran agama dan kehidupan sosial. Peran tersebut penting untuk mendorong tumbuhnya sikap terbuka, saling menghargai, serta kesadaran bahwa menjaga kerukunan merupakan tanggung jawab bersama.Melalui partisipasi dalam dialog lintas agama, IAHN Gde Pudja Mataram turut mendukung upaya membangun kehidupan masyarakat yang harmonis di Nusa Tenggara Barat. Semangat yang mengemuka dalam kegiatan ini menegaskan bahwa perbedaan tidak harus menjadi batasan untuk bersatu, melainkan dapat menjadi landasan untuk memperkuat persaudaraan, menjaga kedamaian, dan mewujudkan kerukunan antarumat beragama.
By:A9


