
Mataram — Menjelang prosesi Wisuda Sarjana ke-XXVI dan Pascasarjana ke-XIII, Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Gde Pudja Mataram menggelar Upacara Samawartana pada hari Rabu, 19 Agustus 2026 di Pura Saraswati, lingkungan kampus IAHN Gde Pudja Mataram. Upacara berlangsung tertib, khidmat, dan sarat makna spiritual sebagai momentum transisi para calon wisudawan dari masa brahmacari menuju kehidupan pengabdian di tengah masyarakat. Samawartana menjadi bagian penting dalam perjalanan pendidikan Hindu. Secara filosofis, upacara ini menandai berakhirnya masa Brahmacari, yaitu masa belajar, menuntut ilmu, dan membentuk karakter—sekaligus menjadi penyucian diri sebelum seseorang kembali menjalankan kehidupan di tengah masyarakat.

Dengan demikian, Samawartana bukan sekadar ritual menjelang wisuda, tetapi menjadi simbol kesiapan untuk membawa pengetahuan yang diperoleh selama menempuh pendidikan menjadi nilai dan tindakan nyata dalam kehidupan.Ketua Panitia Samawartana, Ni Made Ayu Gempa Wati, S.Ag., M.Pd.H., dalam laporannya menyampaikan bahwa pelaksanaan wisuda tahun 2026 mencatat jumlah lulusan terbanyak sepanjang sejarah penyelenggaraan wisuda di IAHN Gde Pudja Mataram.

Pada tahap kedua ini terdapat 265 calon wisudawan, yang ditambah 23 wisudawan pada tahap pertama, sehingga total lulusan yang diwisuda sepanjang tahun 2026 mencapai 288 orang.Jumlah tersebut menjadi gambaran penting atas perkembangan akademik IAHN Gde Pudja Mataram sekaligus menunjukkan semakin luasnya kontribusi kampus dalam melahirkan lulusan pada berbagai bidang keilmuan.

Para calon wisudawan berasal dari jenjang magister dan sarjana, dengan latar belakang keilmuan yang beragam, mulai dari Ilmu Komunikasi Hindu, Ekonomi Hindu, Manajemen Ekonomi, Pariwisata Budaya dan Keagamaan, Hukum Agama Hindu, Hukum Adat, Filsafat, Pendidikan Agama Hindu, hingga Pendidikan Seni dan Budaya Keagamaan Hindu serta PG PAUD.Prosesi Samawartana dipimpin oleh Ida Pedanda Gede Made Jelantik Dwija Gautama.

Dengan suasana Pura Saraswati yang sakral, rangkaian upacara dilaksanakan sebagai bentuk penyucian dan permohonan anugerah agar para calon wisudawan senantiasa memperoleh tuntunan dalam menjalani tahapan kehidupan berikutnya.Dalam kesempatan tersebut, Rektor IAHN Gde Pudja Mataram, Prof. Dr. Ir. I Wayan Wirata, A.Ma., S.E., M.Si., M.Pd., menyampaikan ucapan selamat kepada seluruh calon wisudawan atas keberhasilan menyelesaikan Pendidikan.

Rektor juga menekankan bahwa Samawartana memiliki makna mendalam karena menjadi penanda berakhirnya masa belajar sekaligus awal dari tanggung jawab baru sebagai insan terdidik yang akan kembali ke tengah masyarakat.Bagi para lulusan, ilmu pengetahuan yang diperoleh di bangku kuliah diharapkan tidak berhenti sebagai capaian akademik, tetapi menjadi bekal untuk menjalani kehidupan secara bijaksana, berintegritas, dan berlandaskan dharma.

Mereka diharapkan mampu membawa nama baik almamater, memberikan manfaat bagi keluarga dan masyarakat, serta mengambil peran nyata dalam kehidupan bangsa dan negara.Pesan tersebut sejalan dengan nilai yang ditekankan dalam laporan panitia, bahwa berakhirnya masa brahmacari merupakan langkah menuju tahap kehidupan berikutnya. Para lulusan diharapkan tetap tenang dan teguh menghadapi berbagai dinamika kehidupan, sebagaimana nilai kebijaksanaan yang tercermin dalam Sarasamuccaya. Pengetahuan dharma yang diperoleh selama pendidikan diharapkan dapat memberi manfaat bagi diri sendiri, keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara.Rangkaian Samawartana kemudian dilanjutkan dengan persembahyangan bersama dan Mejaya-jaya.

Seluruh rangkaian berlangsung dengan suasana religius dan penuh penghormatan, mempertemukan dimensi akademik dan spiritual dalam satu momentum penting perjalanan para calon wisudawan.Melalui Samawartana, IAHN Gde Pudja Mataram tidak hanya mengantarkan para calon wisudawan menuju seremoni akademik, tetapi juga meneguhkan pesan bahwa kelulusan bukanlah akhir dari proses belajar. Ia merupakan awal dari perjalanan baru, yaitu ketika pengetahuan, karakter, dan nilai dharma yang diperoleh selama masa pendidikan diuji melalui karya dan pengabdian nyata di tengah masyarakat.


